Monday, 22 August 2016

Keragaman bentuk Muka BUmi Sebagai Akibat Proses Eksogen

KERAGAMAN BENTUK MUKA BUMI SEBAGAI AKIBAT
PROSES EKSOGEN
Uji Kemampuanmu
Kamu tentu sudah memahami proses vulkanisme. Sebutkan dampak positif dan negatif dari letusan
gunung api!
Setelah mempelajari berbagai tenaga pembentuk muka bumi yang berasal
dari dalam bumi (tenaga endogen), berikut ini akan dipelajari tenaga yang
ikut memengaruhi terbentuknya muka bumi kita, yaitu tenaga eksogen.
Di televisi atau koran kita sering melihat atau membaca terjadinya tanah
longsor, gunung api meletus, dan gempa bumi di suatu wilayah. Gunung api
meletus dan gempa bumi merupakan peristiwa yang disebabkan oleh adanya
tenaga endogen. Bagaimana dengan bencana tanah longsor? Tenaga apa yang
menyebabkannya? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah tenaga eksogen.
Pada saat kamu di pantai, akan kamu jumpai peristiwa pasir yang
beterbangan dan berpindah tempat. Hal itu terjadi karena adanya tenaga
eksogen. Apa yang dimaksud dengan tenaga eksogen? Tenaga eksogen adalah
tenaga yang berasal dari luar bumi yang mengakibatkan perusakan atau
perombakan muka bumi. Perwujudan akibat tenaga eksogen adalah
pelapukan, pengikisan (erosi), sedimentasi, dan denudasi. Unsur-unsur yang
berperan dalam prosesnya adalah sinar matahari, temperatur, udara, air, angin,
dan makhluk hidup. Unsur yang paling dominan adalah manusia.
1. Pelapukan
Coba perhatikan gambar di samping! pada siang hari suhu udara tinggi
menyebabkan batuan memuai (mengembang). Pada malam hari, pada saat
suhu udara rendah, batuan akan mengerut (menyusut). Peristiwa
mengembang dan menyusut yang terjadi silih berganti akan menimbulkan
tekanan terhadap batuan. Tekanan yang terjadi secara terus menerus
menyebabkan batuan retak. Lama-kelamaan lapisan batuan bagian luar akan
mengelupas. Proses hancurnya batuan karena suhu udara merupakan bagian
dari pelapukan. Selain karena suhu udara, pelapukan juga dapat terjadi karena
air dan organisme.
Pelapukan adalah suatu proses perusakan atau penghancuran batuan
yang disebabkan oleh pengaruh cuaca (temperatur), air, atau organisme.
Batuan yang mengalami pelapukan hanya pada lapisan luarnya. Tebalnya
ditentukan oleh besarnya pengaruh peristiwa-peristiwa penyebabnya.
Misalnya, di daerah tropis tebalnya dapat mencapai 100 m, sedangkan didaerah lintang sedang hanya beberapa meter saja. Menurut proses
terjadinya diketahui tiga macam pelapukan yaitu pelapukan mekanik
(fisis), pelapukan kimiawi (khemis), dan pelapukan organik (biologis).
a. Pelapukan Mekanik (Fisis)
Pelapukan mekanik adalah proses pecahnya batuan menjadi
pecahan-pecahan batuan yang lebih kecil tanpa mengalami perubahan
komposisi kimia. Pelapukan mekanik terjadi karena adanya perubahan
suhu yang sangat mencolok antara siang dan malam hari, umumnya di
daerah gurun pasir. Bayangkan, suhu udara di daerah gurun dapat
mencapai 70° C pada siang hari, dan turun menjadi 20° C pada malam
hari. Perubahan suhu yang sangat mencolok mengakibatkan terjadinya
pemuaian (pengembangan) dan penyusutan (pengerutan) dengan cepat
sehingga bagian luar dari batu-batuan lama-kelamaan akan pecah.
Pelapukan mekanik juga dapat terjadi karena kekuatan membeku air
yang ada dalam pori-pori dan celah-celah batuan, erosi air laut (abrasi
pantai), dan oleh akar-akar pohon yang masuk ke celah-celah batuan.
Pelapukan ini banyak terjadi di daerah iklim gurun, stepa, dan daerah
bersalju. Gambar 2.25 merupakan salah satu contoh proses pelapukan
mekanik. Pada gambar tersebut terjadi pengelupasan kulit batuan.
Akibat pengelupasan tersebut terbentuk batuan besar yang bulat.
b. Pelapukan Kimiawi (Khemis)
Pelapukan kimiawi adalah proses penghancuran atau proses
rusaknya batuan karena perubahan susunan kimiawi suatu batuan.
Pelapukan ini terjadi dengan cepat di daerah kapur yang beriklim tropis.
Pelapukan kimiawi berlangsung karena adanya air dan suhu udara
yang tinggi. Contohnya pelapukan kimiawi di daerah gunung kapur di
Gunung Kidul, Yogyakarta. Air hujan yang banyak mengandung zat
asam arang (C02) dan diikuti oleh suhu yang tinggi akan memper-cepat
pelarutan mineral-mineral dalam batuan. Ciri-ciri yang dapat ditemui
akibat proses pelapukan kimiawi yang sangat cepat di daerah kapur
dikenal dengan gejala karst. Berikut ini yang termasuk gejala karst.
1) Stalaktit (menggantung pada atap-atap gua kapur) dan stalakmit
(terdapat pada dasar gua kapur) merupakan endapan batuan kapur
di daerah gua kapur.
2) Dolin adalah lubang berbentuk corong di daerah gua
kapur.
3) Uvala, yaitu lubang-lubang dolin yang banyak dan
lama-kelamaan menjadi satu.
4) Polye, yaitu deretan dolin-dolin atau deretan-de-retan
uvala besar.
5) Karren adalah lubang-lubang kecil yang terdapat pada
perpotongan celah-celah akibat larutan kapur oleh air
hujan yang banyak mengandung CO2.
6) Gua dan sungai di dalam tanah. Retakan batuan
kapur akibat proses pelarutan menjadi semakin
besar dan membentuk lubang-lubang atau gua-gua.
Jika lubang-lubang itu berhubungan satu sama lain,
terbentuk sungai-sungai di dalam tanah.
c. Pelapukan Organik (Biologis)
Pelapukan organik merupakan pelapukan yang
disebabkan oleh organisme, baik hewan, tumbuhan
maupun aktivitas manusia.
1) Pelapukan yang disebabkan oleh pengaruh manusia
melalui penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Misalnya, pembangunan jalan yang melalui daerah
perbukitan dan aktivitas penambangan.
2) Pelapukan yang disebabkan oleh tumbuhtumbuhan
yang membusuk (humus), akar yang
tumbuh menembus batuan dan lumut yang
menempel pada batuan juga dapat mempercepat
pelapukan batuan.
3) Pelapukan yang disebabkan oleh binatang-binatang
(hewan) kecil, seperti cacing, semut, dan bakteri.
Hewan-hewan tersebut membuat rumah dan tinggal
di dalam batuan akan mempercepat lapuknya
batuan.
2. Pengikisan (Erosi)
Setelah bagian batuan yang melapuk atau telah hancur akan mudah
terkikis oleh angin atau es, tenaga air. Proses pengikisan batuan ini disebut
erosi. Proses erosi merupakan kelanjutan dari proses
pelapukan. Berdasarkan faktor-faktor penyebabnya, erosi
dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut.
a. Erosi Oleh Air Sungai
Air sungai yang mengalir akan menimbulkan gesekan
dengan tanah yang dilaluinya. Gesekan air sungai
menyebabkan terjadinya pengikisan. Kekuatan pengikisannya
dipengaruhi oleh kecepatan dan jumlah air yang mengalir.
Akibat pengikisan ini timbullah lembah, ngarai, jurang, dan
meander (sungai yang berkelok-kelok).
b. Erosi Oleh Air Laut (Abrasi)
Erosi oleh air laut atau erosi marin merupakan pengikisan
air pantai oleh pukulan gelombang-gelombang laut yang terusmenerus
pada dinding pantai. Akibatnya terbentuklah tebing
terjal (cliff) dan gua laut. Contohnya abrasi di pantai selatan
Pulau Jawa.
c. Erosi Oleh Gletser
Erosi oleh gletser terjadi di daerah beriklim sedang yang mempunyai
empat musim dan daerahnya bergunung-gunung. Pada
musim semi, gletser (lapisan es) yang meluncur dan menuruni
lembah. Dan saat batuan atau tanah bergesekan dengan gletser
maka terjadilah proses pengikisan. Akibatnya terbentuk danau
gletser serta lembah-lembah yang semula berbentuk V menjadi U.
d. Erosi Oleh Angin (Deflasi)
Pengikisan oleh angin pada permukaan batuan dapat
memindahkan pecahan batu-batuan atau pasir serta
menerbangkan debu, kemudian mengendapkannya di suatu
tempat.

No comments:

Post a Comment