Anda telah melihat beberapa perubahan pada benda. Semua benda yang ada di alam ini, sebenarnya mengalami perubahan. Sebuah rumah yang dahulu tampak megah, beberapa tahun kemudian mulai timbul retak-retak bahkan ada bagian-bagian yang hancur. Sebuah patung yang berdiri dengan kokoh, suatu saat akan mengalami keropos. Demikian, sebagian perubahan yang terjadi di sekitar kita.
Terdapat tiga bentuk perubahan yang sering kita lihat, yaitu pelapukan, perkaratan, dan pembusukan. Masing-masing bentuk perubahan di atas bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Perubahan dapat disebabkan oleh makhluk hidup atau makhluk tidak hidup. Di bawah ini kita akan mempelajari bentuk perubahan dan faktor-faktor penyebabnya.
1. Pelapukan
Pernahkah Anda pergi ke daerah pegunungan? Cobalah Anda amati batu-batuan yang terdapat di sana. Perhatikan dengan baik keadaan batu dan lingkungan di sekitarnya! Apakah batu itu masih utuh atau sudah terpecah menjadi beberapa bagian? Apakah di atas batu tumbuh tanaman lumut atau pohon jenis lainnya? Apakah lumut dan pohon yang tumbuh di atas batu memengaruhi keadaan batu tersebut? Demikianlah, beberapa pertanyaan yang akan muncul di benak kita. Batu termasuk benda yang mengalami pelapukan. Batu dikatakan mengalami pelapukan bila hancur menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Batu yang semula tampak utuh, setelah mengalami pelapukan akan pecah menjadi batuan-batuan yang lebih kecil. Bentuknya pun kadang berubah menjadi bergerigi, runcing, atau bagai lembaran-lembaran tipis. Mengapa batuan bisa menjadi lapuk?
Terdapat dua faktor yang mengakibatkan batuan menjadi lapuk, yaitu faktor makhluk hidup dan alam. Pelapukan batuan karena faktor makhluk hidup dinamakan pelapukan biologi, sedangkan pelapukan karena faktor alam dinamakan pelapukan fisika.
a. Pelapukan biologi
Pelapukan biologi dapat terjadi jika suatu batuan ditumbuhi oleh pohon atau lumut. Peristiwa ini dapat Anda temukan di daerah-daerah yang lembap. Pohon dan lumut bisa hidup pada batuan karena di situ ada sedikit tanah dan air. Setelah berlangsung beberapa lama, pohon bertambah besar. Akar-akarnya mencengkeram makin kuat sehingga mampu memecahkan batuan. Kejadian serupa ini, terjadi di trotoar yang ditanami pohon-pohonan. Sewaktu pohon-pohonan masih kecil, belum timbul masalah. Namun, setelah pohon-pohonan bertambah besar, akarnya bertambah kuat dan menjalar ke mana-mana. Akibatnya, trotoar itu lama-kelamaan retak dan menjadi hancur.
Sebenarnya, masih banyak lagi contoh peristiwa pelapukan secara biologi. Coba Anda perhatikan kayu-kayu yang ada di rumah atau lingkungan sekitar. Apakah kayu-kayu itu masih utuh atau sudah berlubang-lubang? Beberapa kayu mungkin masih utuh dan tampak halus, tetapi sebagian lagi mungkin sudah berlubang. Kayu dapat mengalami pelapukan karena dimakan rayap. Rayap sebenarnya hidup di dalam tanah. Rayap juga bisa hidup pada kayu dan batang pohon. Untuk membuat lubang atau sarangnya, rayap mengangkut tanah sedikit demi sedikit. Mula-mula ukurannya kecil, tetapi lama-lama bisa menjadi besar.
Selanjutnya, coba Anda perhatikan tembok pagar rumah yang ditumbuhi tanaman merambat. Pada mulanya, sebelum ditumbuhi tanaman, tembok itu halus. Namun, lama-lama tembok menjadi tidak halus lagi. Di balik tanaman tersebut, timbul lubang-lubang bekas akar tanaman itu melekat. Semua ini menunjukkan peristiwa pelapukan secara biologi.
b. Pelapukan fisika
Di atas, Anda telah mengenal apa yang menyebabkan pelapukan secara biologis. Bagaimana dengan pelapukan fisika? Pelapukan fisika dapat disebabkan oleh angin atau air. Angin yang bertiup sepanjang siang dan malam dapat memindahkan batuan sedikit demi sedikit. Sementara itu, angin yang bertiup kencang di daerah pegunungan dapat menggelindingkan batuan dari puncak gunung ke dasar jurang. Selama berpindah tempat itulah batuan, batu itu bergesekan dengan tanah atau batuan lain sehingga mengalami pelapukan. Batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil, misalnya pasir dan kerikil.
Air yang menetes sedikit demi sedikit juga dapat menyebabkan pelapukan batuan. Perhatikan tetesan hujan yang jatuh di halaman rumahmu! Tetesan hujan tersebut kelihatannya tidak terlalu deras. Namun, tetesan hujan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat batu menjadi berlubang. Mula-mula lubang yang terbentuk hanya kecil, tetapi lama-lama membesar. Lubang tersebut kemudian berisi air. Apa yang terjadi dengan air dan batu tersebut?
Pada siang hari, air dan batu mendapat panas dari sinar Matahari. Akibatnya, batu menjadi mengembang atau ukurannya sedikit bertambah besar. Namun, pada malam hari air, batu berubah menjadi dingin sehingga menyusut atau ukurannya sedikit mengecil. Perubahan silih berganti antara mengembang dan menyusut dalam waktu yang lama dapat menyebabkan batuan pecah atau mengalami pelapukan.
Dapatkah proses pelapukan dicegah? Beberapa pelapukan dapat dicegah, terutama pelapukan yang terjadi pada kayu. Berbagai upaya dilakukan manusia untuk mencegah pelapukan pada kayu, misalnya dengan merendam kayu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan selama berbulan-bulan. Bisa juga dengan melapisi kayu dengan cat atau bahan anti rayap. Pelapukan harus dicegah agar bangunan tidak mudah ambruk. Bayangkan bila kayu dimakan oleh rayap hingga keropos. Tentu saja kayu itu tidak mampu lagi menyangga bangunan. Akibatnya, bangunan bisa ambruk.
2. Perkaratan
Pernahkah anda melihat jarum atau kawat yang sudah berkarat? Apakah jarum yang sudah berkarat keadaannya sama dengan jarum yang masih baru? Tentu berbeda, bukan? Jarum yang masih baru tampak mengkilap dan permukaannya masih halus. Sebaliknya, jarum yang sudah berkarat tidak lagi mengkilap dan permukaannya terasa kasar. Mengapa jarum yang terbuat dari bahan logam dapat berkarat?
Logam, terutama besi dan baja, akan mengalami perkaratan jikaterkena air dan udara. Berarti, air dan udara dapat mengubah keadaan logam. Sepotong kawat yang terkena hujan atau embun, lama-kelamaan akan berkarat. Demikian pula atap rumah yang terbuat dari lembaran seng. Lama-kelamaan atap itu berkarat dan bahkan bisa timbul kebocoran di mana-mana. Kaleng yang dibiarkan tergeletak di halaman atau di kebun juga berkarat. Kawat, seng, dan kaleng merupakan benda-benda yang terbuat dari logam dan mudah berkarat.
Gejala perkaratan bisa sangat merugikan. Perkaratan tidak hanya terjadi pada barang murah seperti paku dan pisau. Barang yang mahal sekalipun tidak luput dari masalah perkaratan. Perkaratan bisa terjadi pada sepeda motor, mobil, dan kapal laut. Sepeda motor dan mobil senantiasa terkena air, baik ketika dicuci maupun ketika terjadi hujan. Apalagi pada musim hujan di mana air bercampur dengan lumpur sehingga bisa membuat bagian-bagian mobil cepat berkarat. Pada kapal laut lebih parah lagi. Bagian bawah kapal laut selalu terendam air laut, sedangkan bagian atasnya seringkali terkena percikan air laut. Air tersebut tidak pernah kering, meskipun terkena sinar matahari. Adanya interaksi antara air laut dan udara dengan badan kapal menyebabkan badan kapal menjadi cepat berkarat.
3. Pembusukan
Dalam kehidupan sehari-hari, pembusukan merupakan gejala yang sering kita alami. Pembusukan terjadi pada bahan makanan, seperti nasi, ikan, buah-buahan, dan sayuran. Bahan-bahan ini mudah membusuk bila dibiarkan di tempat terbuka. Perhatikan sepiring nasi yang diletakkan di atas meja! Apa yang terjadi dengan nasi tersebut keesokan harinya? Tentu nasi akan membusuk. Baunya tidak lagi harum mewangi, melainkan terasa agak asam. Ikan juga mudah membusuk. Ikan yang masih segar pada pagi hari mulai membusuk siang hari atau sore hari. Ikan yang masih segar terasa kenyal. Lama-lama ikan mulai lembek yang menandakan ikan sudah tidak segar lagi. Bila terus dibiarkan maka esok hari ikan sudah membusuk. Baunya menusuk hidung. Akibatnya, ikan dikerubuti oleh lalat.
Buah-buahan pun sering mengalami pembusukan. Buah-buahan yang sudah matang akan membusuk bila tidak segera dimakan. Apalagi bila buah-buahan itu sudah dibelah, proses pembusukan bisa berlangsung lebih cepat. Kamu dapat membuktikan hal itu dengan meletakkan buah pisang di atas meja. Bandingkan antara buah pisang yang telah dibuka kulitnya dengan buah pisang yang kulitnya masih tertutup! Manakah yang lebih cepat membusuk?
Bahan makanan dapat mengalami pembusukan oleh kuman yang berupa jamur dan bakteri. Jamur dan bakteri dapat Anda lihat pada roti atau biskuit yang disimpan di udara terbuka selama beberapa hari. Jamur dan bakteri terdapat pada tempat yang lembap, misalnya pada nasi yang sedikit berair dan pakaian yang agak basah. Jamur dan bakteri juga berkembang pada makanan yang sudah kedaluwarsa. Jamur dan bakteri yang tumbuh pada makanan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan keracunan makanan. Keracunan makanan antara lain ditandai dengan kepala pusing, mual-mual dan muntah-muntah.
No comments:
Post a Comment